Setelah gagal melaksanakan project 29, memang gara-gara agak side tracked karena
satu dan lain hal, mari kita lanjutkan lagi misi kita ke project 31. Kalau boleh
flashback sedikit, di project 29 ada 3 hal yang gw lakukan yaitu :
- Kasih
"Kode" ke lelaki sekitar, yang single of course
- Make my self availabe (Dating
app, Instagram, Facebook)
- Berbenah diri
Ga ada satupun dari hal diatas yang gw
lakukan dengan konsisten. Anaknya moody an. Apalagi kalau udah kedistract
masalah lain. Soal financial misalnya. Soal kerjaan. Jadi ya memang wajar kalau
misinya gagal. Cuman ya kayanya Project kali ini harus revisi hal-hal yang jadi
priority. Belajar dari kesalahan sebelumnya. Karena dari project 29 ada beberapa
pengalaman berharga yang bisa dijadikan pelajaran.
Contohnya aja waktu modusin
lelaki sekitar, ada fun part ketika si cowo terlihat merespond dengan baik,
misalnya mau nemenin ke sana, kesini, kasih-kasih saran, makan bareng, ketemu
kakak/ keponakan tapi yaudah stuck disitu aja. Gw pun cuma berani kasih "Kode"
yang menurut gw udah keras banget itu kodenya. Tapi he didn't see or he just
didn't want to see (pura-pura ga ngeh). Gemes mau ngajak nikah duluan :D tapi
takut di tolak hahah, kemudian malu, apalagi kalo kedengeran temen-temen lain.
Mau ke dukun dosa ye kan. wkwk Yaudah kita move on aja, sambil cek-cek ombak
lagi sekali-sekali selama orangnya masih single.
Tapi stock yang bisa di "Kode"
in semakin menipis. Bahkan pernah juga Kode gw salah sasaran. Sekarang sulit
membedakan ya yang single sama yang pura-pura single. Bedanya yang pura-pura
single ini malah lebih nangkep gitu, telp terus, perhatian padahal ada mau nya.
Bilangnya "engga lah, emang kalo jalan bareng harus ke 'arah sana'". Tapi
kenyataannya selalu. Terus nanti kalau dia mulai aneh-aneh terus gw mematung
gatau harus ngapain dibilangnya 'lo nya kasih signal boleh'. Kesel banget kenapa
sih jadi laki beristri tuh yang bener aja gitu loh. Sebelumnya jalur ninjaku
menghadapi lelaki model ini adalah menghilang. Ghosting. Tapi kadang ga mempan
juga apalagi kalo sekantor. Jadi kemarin liat di IG, Elizabeth Olsen (Yang jadi
Wanda di Avengers), dia bilang Woman can always say NO, and NO is a full
sentence. Dalam konteks ini NO tanpa penjelasan apapun udah cukup dan harusnya
laki udah paham. Jadi, dibanding ghosting doang gw harus say NO dulu baru
ghosting. wkwk teteup
Pelajaran dari Step no. 2 make my self available wah
lumayan banyak sih ini. Tapi yang paling ngena adalah sesosok kaka kelas
menghubungi di facebook, lanjut ke instagram, lanjut ke chat intense,
kirim-kiriman foto, sayang-sayangan, terus gagal lagi. Why? Karena pas udah chat
intense terus mulai kirim-kiriman foto seharusnya disitu sudah harus di
perjelas. What is the goal of this intense communication? Masalahnya laki kan
suka manipulatif ya. Dan sejujurnya sampai sekarang gw ga paham kenapa mereka
suka minta kirimin foto. Foto biasa loh ya, bukan foto aneh-aneh Foto Selfie
biasa aja. Tapi tetep aja weird, apakah foto biasa juga dipake untuk ngebayangin
hal-hal seksual? Karena kalau gw sebagai cewe kayanya ga tertarik gitu minta
foto cowo selfie. Anyway, karena sudah se intense itu wajar kan kalau gw merasa
this goes somewhere. Kemudian tiba-tiba laki ini menghilang dan tidak ada
komunikasi beberapa hari padahal Insta story jalan terus. Disini gw feel
manipulated dan upset. Kemudian gw meledak dan intinya ngomong I didn't feel
respected. Then orangnya ngomong kalo kita kan ga ada hubungan apa-apa kenapa
lebay. wiiii.. Manipulative Jerk ! Yaudah gw udah mengira akan the end karena gw
called him out on his behavior. Sedih tapi cuma bisa move on. Jadi pelajarannya,
don't expect too much, be clear on every communication.
Pelajaran dari Step no.
3 adalah Self Love. Dari berbenah diri, udah mulai rapih, organized, udah bikin
budget financial plan, mencoba pakai Hijab walau masih suka buka tutup kaya
jalur puncak :D , rajin olahraga, makan sehat, perbanyak ibadah. Yang masih
sulit untuk dilakukan adalah Self Love. Gw termasuk orang yang keras pada diri
sendiri. I am burning myself like a candle to light others. Udah gitu kalau dari
buku nya stephen Covey 7 habit seeing and being itu related. Gw merasa melihat
diri gw adalah sosok yang tinggi, tidak gemuk, pintar. Jadi Ketika gw melihat my
being koq gw gemukan ya sekarang, wah banyak yang lebih pintar cakep, gw bully
my self in my mind. Kata-kata kaya "Worthless", "Unloved" , "Stupid", "Ugly'
muncul tanpa disadari. Akhirnya Abandoned my self even more, atau ketika ada
lelaki manipulatif atau gw di tolak atau di ignore oleh seseorang, gw merasa I
deserve it. It's because of me. Keinget Kata-kata professor di UNSW lagi makan
siang bareng satu kelas tiba-tiba duduk disamping gw yang lagi ngurek2 catetan
kuliah sambil nunggu makanan. Dia ngomong " I think you are too hard on your
self, you always feel the need to work two times, three times harder than
everybody right?" Terus gw gabisa ngomong apa-apa cuma nyengir. Abis itu gw
permisi ke toilet terus nangis kejer di toilet kampus. It hits right on the
spot. I feel seen, perasaan jadi campur aduk.
Jadi di project kali ini
prioritasnya adalah Self love. How to love my self no matter what.
Apalagi gw
baru aja keluar dari my established work di Garuda, my hard earned title (Senior
Manager/ Staff Ahli Direksi) dan now masih cari yang cocok lagi. Setiap di
ghosting interviewer atau email ga di bales lagi sama perusahaan, I need to
remind my self it's their lost. Juga kalau chat atau jalan ga lanjut sama cowo,
need to remind my self it's oke I love my self.
Sabtu, 25 Desember 2021
Langganan:
Postingan (Atom)
