Degradasi fungsi oleh konstruksi sosial dalam masyarakat menyebabkan posisi wanita terpojokan dan seakan-akan terlihat tidak berdaya. Dalam sebuah komunitas yang sangat sarat akan norma-norma patriarki, wanita sering menjadi korban dari norma-norma yang di bangun oleh lingkungan masyarakatnya, seperti yang terlihat dalam cerpen “The lottery” karangan Shirley Jackson. Yang saya maksud sebagai degradasi fungsi adalah dimana biasanya masyakat menjadi tempat untuk belajar,bertoleransi, dan saling memetik manfaat satu sama lain akan tetapi dalam hal ini masyarakat menyebabkan ketidakberdayaan, ketidakadilan, dan diskriminasi. Dengan kajian gender, kita dapat mengkritisi posisi wanita yang sub-ordinate dan terkesampingkan dalam cerpen ini dan menganalisisnya menjadi suatu wacana yaitu dimana masrakatlah yang bersalah atas prejudice-prejudice yang diterapkan untuk mengatur wanita.
Menurut Melani Budianta dalam artikelnya “Sastra dan Ideologi gender”, kajian gender meliputi analisis terhadap simbol-simbol dan mitos yang beredar dalam masyarakat, norma-norma yang dipakai untuk memahami simbol-simbol tersebut, tatanan masyarakat yang mendukung, dan pembentukan identitas subjektif. Analisis ini membantu kita memahami dari mana asalnya prejudice dan apa penerapannya dalam masyakat khususnya dalam cerita “The lottery” .
Pertama, simbol-simbol dan mitos yang terkandung dalam masyarakat adalah dasar dari semua prejudice yang timbul tentang wanita. Simbol wanita sebagai pendamping pria adalah simbol yang tak bisa di elakan dalam cerita “The lottery”. Wanita-wanita patuh kepada suami dan mendampingi suami dalam suatu acara, seperti acara pengambilan lotre disini. Simbol ini menjadi sesuatu yang sakral bahwa di saat sang lelaki mengambil keputusan mewakili keluarga, sang wanita mendampingi dan menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa. Lalu ada lagi simbol kekuasaan yang di dominasi oleh sifat maskulin laki-laki, dimana dalam masyarakat laki-laki lah mempunyai peran penting, laki-laki menjadi kepala keluarga, jika wanita menikah maka dia berganti nama belakang. Yang tadinya nama belakangnya adalah dari ayahnya lalu berganti kepada suaminya ketika wanita menikah. Anak perempuan yang menikah dalam cerita ini berpindah ke keluarga suaminya dan mendampingi suaminya.
Kemudian, norma-norma yang dipakai dalam masyarakat untuk memahami simbol-simbol tersebut -wanita sebagai pendamping dan laki-laki sebagai penguasa- merealisasikan prejudice terhadap wanita sebagai kaum yang berada di posisi sub-ordinat. Yang bertugas untuk mewakili keluarga adalah lelaki. Seperti dalam cerita ini peraturannya adalah ketika pengambilan lotre laki-lakilah yang mengambil dan membacakan. Apapun hasilnya Wanita dan anak-anak perempuan hanya bisa menerima. Wanita dianggap tidak pantas untuk mewakili keluarga, dimana dicerita ini ketika salah satu keluarga sang suami sedang sakit dan tidak mempunyai anak lelaki dewasa sang istrilah yang bertugas mengambil lotre untuk keluarga tersebut. Adanya sistem ketidak percayaan kepada perempuan menjadikan sang istri yang mewakili suaminya disini di anggap tidak beruntung dan mendapat perlakuan yang diskriminatif.
Norma-norma atau sistem ketidakpercayaan masyarakat terhadap wanita banyak berkembang di negara-negara khususnya komunis. Pada suatu masyarakat di China, adanya hukuman yang sangat berat terhadap penjahat wanita, yaitu memotong bagian tubuh wanita tersebut hidup-hidup sehingga dia mendapat penderitaan yang sangat*. Mengapa seperti itu karena wanita di anggap lemah dan gampang digoda oleh setan atau iblis sehingga ketika wanita melakukan kejahatan, hukuman nya seperti menghukum iblis atau setan. Jadi, adanya norma-norma yang membenarkan mitos tentang wanita tersebut sangat berpengaruh terhadap prejudice wanita dalam masyarakat.
Lalu tatanan masyarakat yang mendukung juga mengukuhkan prejudice yang mendiskriminasi wanita dalam masyarakat. Anak laki-laki yang hanya patuh pada ayahnya karena ibu tidak mempunyai otoritas dan dia merasakan kekuatan kekuasaan ayah sehingga patuh terhadap ayah bisa dijadikan contoh tatanan masyarakat patriarkal. Contoh lainnya tradisi pengambilan lotre yang di adakan warga desa, dimana yang mendapatkan lotrenya akan dilempar batu, memunculkan korban wanita sebagai orang yang tidak berdaya. Sang suamilah yang mewakili keluarga mengambil lotre, tetapi pada akhirnya wanita menjadi korban akan tradisi tersebut.
Pada kesimpulannya, warga desa dalam cerita ini secara langsung maupun tidak langsung menerapkan norma-norma patriarki dalam masyarakat, yang sesungguhnya bisa kita lihat di Indonesia pada suku-suku yang memegang norma ptriarki seperti suku batak. Masrakat bersalah untuk prejudice-prejudice yang timbul dan diterapkan masyarakat untuk mengatur wanita karena adanya mitos-mitos atau simbol-simbol, norma-norma, dan tatanan masyarakat yang mendiskriminasi wanita. Pada akhirnya, wanita menjadi korban dari norma-norma yang dikonstruksi oleh lingkungannya sendiri.
Minggu, 18 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
